Persekutuan ATOIN METO Kalbar Gelar Natal Perdana Bernuansa Budaya dan Syukuran Tahun Baru 2026

Tvnewsone.com, Pontianak– Persekutuan ATOIN METO Kalimantan Barat menggelar Ibadah Natal dan Syukuran Tahun Baru 2026 dengan tema “Uisneno nem neu han fe hosis neu ale’ ta’un” di Gedung GKSI Betesda, Gg. Keto, Jalan Parit Pangeran, Kelurahan Siantan Hulu, Kecamatan Pontianak Utara, Kota Pontianak, Jumat (30/1/2026). Kegiatan ini menjadi momen Natal perdana bagi keluarga besar ATOIN METO diaspora di Kalimantan Barat.

Ibadah Natal berlangsung khidmat dan penuh kekeluargaan. Acara diisi dengan sembahyang bersama, khotbah, serta penampilan penyanyi dan tarian daerah khas ATOIN METO. Sekitar 200–300 peserta yang berasal dari berbagai daerah di Kalimantan Barat tampak hadir mengenakan pakaian adat Nusa Tenggara Timur, menciptakan suasana perayaan yang sarat dengan nilai budaya dan identitas leluhur.

Dewan Pembina Flobamora sekaligus Pembina ATOIN METO Kalimantan Barat, Yohanes Bana, menjelaskan bahwa pembentukan Flobamora beserta rantingnya, termasuk ATOIN METO, lebih difokuskan pada aspek sosial kemasyarakatan. Kalimantan Barat yang menjadi jalur keluar masuk menuju Malaysia kerap menjadi tujuan warga Nusa Tenggara Timur untuk mencari pekerjaan, baik di perkebunan sawit maupun ke luar negeri.

“Melalui Flobamora dan ATOIN METO, kami berupaya membantu dan menangani berbagai persoalan sosial warga NTT, khususnya yang berasal dari Timor. Kami juga bersyukur atas dukungan dan kerja sama Pemerintah Daerah Kalimantan Barat dalam menangani persoalan sosial masyarakat,” jelasnya.

Ketua Persekutuan ATOIN METO Kalbar, Pdt. Iman Lewi Khornelis Bureni, SH., S.Pd.K., dalam sambutannya menyampaikan puji dan syukur kepada Tuhan atas terselenggaranya Natal perdana tersebut. Ia menilai keberhasilan kegiatan ini merupakan hasil kerja sama, kekompakan, dan solidaritas seluruh masyarakat ATOIN METO diaspora di Kalimantan Barat.

Ia juga mengajak seluruh warga ATOIN METO untuk terus hidup berdampingan secara harmonis dengan masyarakat adat setempat, baik masyarakat Dayak maupun kelompok adat lainnya. Hal tersebut sejalan dengan semboyan ATOIN METO, ansaw mese neka mese, yang bermakna sehati, sejiwa, sepemikiran, dan satu tujuan untuk membangun kehidupan bersama yang lebih baik.

“Kami berharap Natal perdana ini menjadi spirit untuk terus memupuk kebersamaan dan persekutuan. Ke depan, kegiatan ini akan diupayakan agar dapat dilaksanakan secara rutin setiap tahun dengan jumlah peserta yang lebih banyak,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua Panitia Natal ATOIN METO Kalbar, Pdt. Dr. Gihon Nenabu, M.Th., M.Pd., menyampaikan bahwa perayaan Natal dan syukuran Tahun Baru ini menjadi sarana mempererat kekompakan serta kebersamaan warga ATOIN METO di tanah perantauan.

Menurutnya, nuansa budaya yang ditampilkan melalui busana adat dan tarian daerah merupakan wujud nyata komitmen untuk melestarikan warisan budaya leluhur.

“Melalui Natal ini kami ingin menunjukkan kebersamaan dan kekompakan ATOIN METO Kalimantan Barat. Kami juga berupaya melestarikan budaya, khususnya bahasa ibu Kuah Meto atau Bahasa Dawan, agar tetap dikenal oleh generasi muda yang lahir dan besar di Kalimantan Barat,” ungkapnya.

Ia menambahkan, banyak warga ATOIN METO yang telah berbaur dan menikah dengan masyarakat setempat sehingga anak cucu mereka tidak lagi mengenal bahasa dan pakaian adat asal Nusa Tenggara Timur. Oleh karena itu, momentum Natal ini dimanfaatkan sebagai sarana edukasi budaya agar generasi penerus tetap mengenal jati diri dan asal-usul leluhurnya.

Perayaan Natal dan Syukuran Tahun Baru 2026 ini tidak hanya menjadi ungkapan syukur dan perayaan iman, tetapi juga menjadi wadah mempererat persaudaraan, memperkuat identitas budaya, serta meneguhkan komitmen ATOIN METO untuk hidup rukun dan berkontribusi positif di tengah keberagaman masyarakat Kalimantan Barat. (Dodi).