Ekbis  

Governance Jadi Kunci Pertumbuhan SCF di Tengah Ketidakpastian Global

Industri urun dana efek makin dilirik sebagai alternatif investasi dan pembiayaan UMKM

Tvnewsone.com, Jakarta — Di tengah perlambatan ekonomi global, industri Securities Crowdfunding (SCF) di Indonesia kian menguat sebagai alternatif investasi sekaligus sumber pembiayaan sektor riil dan UMKM.
Proyeksi International Monetary Fund (IMF) menunjukkan pertumbuhan ekonomi global 2026 melambat ke 3,1%. Namun, Bank Indonesia memperkirakan ekonomi domestik tetap solid di kisaran 4,9%–5,7%.

Dalam forum yang digelar Asosiasi Layanan Urun Dana Indonesia (ALUDI) di Bursa Efek Indonesia, pelaku industri menegaskan bahwa penguatan governance, transparansi, dan kualitas penerbit menjadi fondasi utama pertumbuhan SCF.

Wakil Ketua Umum ALUDI, Heinrich Vincent, menilai SCF bukan sekadar platform digital, tetapi bagian dari ekosistem pasar modal yang mendukung pembiayaan produktif.
“SCF memberi peluang investor meraih imbal hasil dari bisnis riil, namun tetap harus diimbangi seleksi usaha dan mitigasi risiko,” ujarnya.

Kinerja industri pun menunjukkan tren positif. Hingga April 2026, total penghimpunan dana SCF menembus Rp2,1 triliun, dengan lebih dari 198.000 investor dan 1.115 penerbit. Instrumen syariah turut mendominasi dengan kontribusi lebih dari separuh total pendanaan.

Ketua Dewan Pembina ALUDI, Wimboh Santoso, menegaskan pentingnya tata kelola dan perlindungan investor dalam menjaga keberlanjutan industri.
“Pertumbuhan industri harus dikawal dengan standardisasi governance dan perlindungan investor yang memadai,” ujarnya.

Sementara itu, Otoritas Jasa Keuangan menyebut SCF sebagai tahap awal sebelum perusahaan masuk pasar modal. Kepala Divisi Urun Dana OJK, Noviyanto Utomo, mengatakan penerbit di SCF sudah dilatih untuk transparan melalui pelaporan rutin dan keterbukaan informasi.
“Di SCF, perusahaan belajar transparansi. Laporan keuangan harus rutin, perkembangan bisnis dipublikasikan. Ini fondasi sebelum masuk ke bursa atau IPO,” jelasnya.

Dari sisi investor, CEO CarbonEthic, Bimo Soewadji, mengingatkan pentingnya memahami risiko.
“Ini investasi, bukan jaminan. Investor harus paham model bisnis dan laporan keuangan sebelum menempatkan dana,” ujarnya.

Ke depan, industri SCF dinilai memiliki prospek besar, dengan catatan pertumbuhan harus mengedepankan kualitas, bukan sekadar volume pendanaan.