PASANG IKLAN Hubungi WhatsApp 08565065138
WhatsApp
PASANG IKLAN Hubungi WhatsApp 08565065138
WhatsApp

Garmin dan PBESI Dorong Sports Science Berbasis Data di Timnas Esports

Pasang Iklan Hubungi WhatsApp 08565065138
WhatsApp

Garmin dan PBESI tvnewsone.com, Jakarta, CNN Indonesia — Dunia esports profesional semakin jauh dari anggapan bahwa performa atlet hanya ditentukan oleh kemampuan bermain gim. Menjelang Asian Games 2026 Aichi-Nagoya, kondisi fisik dan mental atlet mulai ditempatkan sebagai bagian penting dari strategi persiapan Timnas Esports Indonesia.

Pendekatan tersebut diterapkan melalui kemitraan Garmin Health dengan Pengurus Besar Esports Indonesia (PBESI).

Garmin menyediakan 50 unit smartwatch vívoactive 6 beserta akses ke Garmin Clipboard, dasbor analitik kelas enterprise yang memungkinkan tim pelatih mengakses data para atlet secara terpusat selama Pemusatan Latihan Nasional (Pelatnas).

Garmin menyebut pendekatan itu sebagai “Real-Life Buff”—sebuah upaya menghadirkan keuntungan nyata di luar permainan dengan memanfaatkan data kondisi fisiologis atlet.

Business Development Manager Garmin Health Indonesia David Hartono mengatakan kerja sama tersebut tidak sebatas penyediaan perangkat.

“Kemitraan bersama PBESI jauh melampaui sekadar pengadaan wearable,” ujar David.

Menurutnya, ekosistem Garmin Health memungkinkan federasi olahraga mengelola data secara terpusat untuk mendukung pengambilan keputusan, dengan standar keamanan yang ditujukan untuk melindungi privasi atlet.

Teknologi pada vívoactive 6 memanfaatkan sensor optik Garmin Elevate™ dan Firstbeat Analytics untuk memantau sejumlah indikator fisiologis, termasuk denyut jantung dan Heart Rate Variability (HRV).

Informasi tersebut dapat memberikan gambaran mengenai respons tubuh atlet terhadap aktivitas, stres maupun proses pemulihan.

Garmin juga menyediakan sejumlah indikator yang lebih mudah dipahami atlet, seperti Body Battery, Sleep Score dan Stress Tracking.

Body Battery, misalnya, dapat dianalogikan seperti indikator health point dalam gim. Nilainya memberikan gambaran mengenai ketersediaan energi tubuh berdasarkan sejumlah faktor.

Bagi atlet esports, data semacam ini menjadi relevan karena aktivitas latihan yang panjang dapat menimbulkan kelelahan fisik maupun mental.

Dari Grinding ke Latihan Berbasis Data

Pendekatan berbasis data tersebut pada akhirnya mengubah cara melihat latihan esports. Durasi latihan tidak lagi menjadi satu-satunya ukuran.

Kondisi atlet sebelum menjalani sesi latihan juga dapat menjadi pertimbangan. Melalui Garmin Clipboard, pelatih PBESI dapat melihat data sejumlah atlet secara bersamaan dan menjadikannya salah satu referensi dalam menyusun program latihan.

Data tersebut dapat digunakan, misalnya, untuk mempertimbangkan kesiapan atlet menjalani scrimmage ataupun menentukan kebutuhan strength training.

Marcom Manager Garmin Indonesia Rian Krisna mengatakan perangkat wearable dapat membantu atlet memahami kondisi tubuh mereka secara lebih konsisten.

“Performa atlet esports tidak hanya ditentukan oleh apa yang terjadi saat pertandingan, tetapi juga bagaimana mereka mengelola kondisi tubuh di luar permainan,” ujarnya.

Dengan daya tahan baterai hingga 11 hari dan desain yang ringan serta tipis, vívoactive 6 juga dapat digunakan sepanjang hari hingga saat tidur. Hal itu memungkinkan pengumpulan data dilakukan secara lebih berkelanjutan.

Pelatih Kepala Timnas Esports Indonesia Richard Permana mengatakan pendekatan tersebut penting untuk menghadapi persaingan di level Asian Games.

“Di level kompetisi global seperti Asian Games, kemampuan mekanik in-game saja tidak cukup,” kata Richard.

Menurutnya, pertandingan dengan margin kesalahan sangat kecil menuntut atlet berada dalam kondisi fisik dan mental yang optimal.

“Dengan data yang presisi, kami dapat menyusun program yang paling efisien dengan target yang jelas: meraih medali emas untuk Indonesia di Aichi-Nagoya 2026,” ujarnya.

Kolaborasi Garmin dan PBESI menunjukkan arah baru pembinaan esports Indonesia. Atlet tidak hanya dipersiapkan untuk meningkatkan kemampuan mekanik dan strategi permainan, tetapi juga didorong memahami hubungan antara latihan, tidur, stres, pemulihan dan performa.

Dengan kata lain, pertempuran Timnas Esports Indonesia menuju podium Asian Games tidak hanya berlangsung di dalam layar.