Tvnewsone.com, Kubu Raya – Upaya menghadapi ancaman kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Kalimantan Barat tidak hanya mengandalkan penanganan di darat. Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) juga disiapkan sebagai salah satu langkah untuk mengantisipasi kondisi yang berpotensi memicu kebakaran.
Pangdam XII/Tanjungpura Mayjen TNI Novi Rubadi Sugito mengecek langsung kesiapan operasi tersebut di Skuadron Udara 1 Lanud Supadio, Kubu Raya, Selasa (25/8/2026).
Dalam peninjauan itu, Pangdam melihat kesiapan pesawat, kru udara, peralatan hingga bahan semai berupa garam atau NaCl yang akan digunakan dalam pelaksanaan OMC.
Pangdam didampingi Komandan Lanud Supadio Marsma TNI Sidik Setiyono serta Tenaga Ahli Kepala BNPB Brigjen TNI (Purn) Asrianus Bulo.
Menurut Novi, pengecekan dilakukan untuk memastikan seluruh rencana yang telah dibahas bersama para pemangku kepentingan dapat diterjemahkan ke dalam operasi penerbangan secara optimal.
“Hari ini merupakan salah satu kegiatan rutin untuk Operasi Modifikasi Cuaca,” kata Novi.
Ia menjelaskan, sebelum penerbangan dilakukan, sejumlah masukan dari stakeholder dihimpun melalui posko untuk kemudian dimatangkan dalam briefing penerbangan di Lanud Supadio.
Dari hasil pemetaan awal, beberapa wilayah menjadi perhatian untuk pelaksanaan penyemaian awan, di antaranya Landak, Bengkayang dan kawasan bagian tenggara Kalimantan Barat.
“Biasanya agak sore sudah mulai muncul bibit-bibit awan yang berpotensi untuk dilakukan OMC,” ujarnya.
Namun, strategi menghadapi Karhutla di Kalbar tidak berhenti di udara. Kodam XII/Tanjungpura juga menyiagakan kekuatan personel di lapangan.
Sebanyak 4.114 personel organik disebut telah berada di wilayah kedudukan masing-masing. Selain itu, terdapat tiga Satuan Setingkat Batalyon (SSY) atau sekitar 1.260 personel sebagai pasukan perkuatan.
Kodam juga menyiapkan satu Satuan Setingkat Kompi (SSK) yang diarahkan untuk melaksanakan penyuluhan dan sosialisasi di seluruh kabupaten di Kalimantan Barat.
Dengan kombinasi operasi udara, kesiapan personel serta edukasi masyarakat, penanganan Karhutla di Kalbar diarahkan tidak hanya bersifat reaktif ketika api muncul, tetapi juga memperkuat langkah antisipasi sejak potensi bencana terdeteksi.












