PASANG IKLAN Hubungi WhatsApp 08565065138
WhatsApp
PASANG IKLAN Hubungi WhatsApp 08565065138
WhatsApp

Indonesia Kejar Tambahan 69,5 GW Pembangkit, Industri Energi Mulai Bidik Ekosistem Terintegrasi

Pasang Iklan Hubungi WhatsApp 08565065138
WhatsApp

Tvnewsone.com, Jakarta — Kebutuhan energi dan infrastruktur digital Indonesia terus meningkat, mendorong industri untuk tidak hanya menambah kapasitas, tetapi juga memperkuat efisiensi dan keandalan sistem.

Dalam RUPTL 2025–2034, pemerintah menargetkan tambahan kapasitas pembangkit sebesar 69,5 GW, termasuk 42,6 GW energi terbarukan dan 10,3 GW sistem penyimpanan energi. Di sisi lain, kapasitas data center Indonesia telah mencapai sekitar 370 MW pada 2025.

Perkembangan tersebut menjadi konteks penyelenggaraan Indonesia Energy & Engineering (IEE) Series – Energy Week 2026 pada 2–5 September di JIExpo Kemayoran, Jakarta. Mengusung tema “Sustainability for Industrial Transformation”, ajang ini mempertemukan tiga sektor yang semakin saling berkaitan, yakni Electric & Power Indonesia, The Battery Show Indonesia, dan Data Center Asia–Indonesia.

Skala penyelenggaraan tahun ini mencapai lebih dari 20.000 meter persegi, melibatkan 451 perusahaan dari 28 negara, serta menghadirkan 21 sesi seminar dengan 73 thought leaders dan dukungan 12 asosiasi industri.

Deputy Event Director Pamerindo Indonesia, Maxmilaan Bruinier, mengatakan penyelenggaraan Energy Week di Jakarta menjadi upaya memperluas konektivitas industri setelah gelaran Indonesia Energy Week di Surabaya yang mempertemukan lebih dari 200 peserta pameran dari 17 negara.

“Melalui IEE Series – Energy Week di Jakarta, kami memperluas konektivitas tersebut dengan mempertemukan sektor ketenagalistrikan, penyimpanan energi, dan infrastruktur digital dalam satu ekosistem,” ujar Maxmilaan.

Keterhubungan ketiga sektor tersebut juga tercermin dalam pembahasan Symposium Prakarsa Jaringan Cerdas Indonesia (PJCI). Ketua Umum PJCI Arsyadany G. Akmalaputri menilai pertumbuhan kebutuhan listrik industri menuntut sistem kelistrikan yang semakin cerdas, fleksibel, dan mampu mengintegrasikan berbagai sumber energi secara andal.

Menurutnya, pengembangan smart grid, integrasi energi terbarukan, dan teknologi pengelolaan energi menjadi penting untuk meningkatkan efisiensi sekaligus memperkuat ketahanan sistem.

“Energi bukan hanya tentang bagaimana listrik dipasarkan dan disalurkan, tetapi juga tentang bagaimana sebuah bangsa bertumbuh, bagaimana masyarakat mendapatkan kesempatan yang lebih baik dan pembangunan dapat dirasakan secara merata,” ujarnya.

Kebutuhan tersebut sekaligus membuka peluang bagi pelaku industri. RMA Indonesia, misalnya, memanfaatkan Energy Week untuk memperkenalkan solusi pembangkit listrik bagi sektor bangunan, perhotelan, resort hingga data center.

Development and Technical Support Manager RMA Indonesia Rio Harison Saragih mengatakan, keikutsertaan di Energy Week membuat perusahaan dapat menjangkau pasar energi secara lebih spesifik.

“Sekarang lebih spesifik dan target pengunjung pun jelas, animo yang datang memang khusus untuk energi. Kolaborasi berbagai sektor di satu rangkaian pameran seperti IEE Series ini menguntungkan untuk perluasan dan kolaborasi industri,” kata Rio.

Kolaborasi lintas sektor juga diperkuat melalui penyelenggaraan Electric & Power Indonesia (EPI) ke-24 bersama IndoEBTKE ConEx ke-12. Sinergi tersebut mempertemukan pemerintah, industri, penyedia teknologi, akademisi, dan pengguna akhir untuk mendorong pengembangan kelistrikan berbasis energi baru dan terbarukan serta mendukung agenda transisi energi nasional.

Dengan mempertemukan sektor listrik, penyimpanan energi, dan infrastruktur digital dalam satu ekosistem, IEE Series – Energy Week 2026 menjadi ruang bagi industri untuk melihat teknologi, bertukar pengetahuan, sekaligus membuka peluang kemitraan dan implementasi solusi energi yang lebih efisien dan berkelanjutan. IEE Series – Energy Week 2026 berlangsung hingga 5 September 2026 di JIExpo Kemayoran, Jakarta.