Belajar dari Bali: BI Kalbar dan Pokdarwis Jagoi Babang Gali Inspirasi Desa Wisata Les, Buleleng

Tvnewsone.com, Buleleng – Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Kalimantan Barat bersama Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Jagoi Babang, Kabupaten Bengkayang, serta puluhan jurnalis dari berbagai media di Kalbar, melakukan kunjungan studi ke Desa Les, Kecamatan Tejakula, Kabupaten Buleleng, Bali, pada (13/9/2025).

Kegiatan ini bertujuan untuk memperluas wawasan terkait pengelolaan desa wisata berbasis potensi lokal, serta menggali strategi pengembangan pariwisata berkelanjutan yang telah diterapkan Desa Les sebagai salah satu desa wisata terbaik di Indonesia.

Desa Les tercatat sebagai satu-satunya perwakilan Bali yang berhasil masuk dalam 50 besar Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2024. Keberhasilan ini tidak lepas dari kemampuannya mengelola keindahan alam, kekayaan budaya, dan produk unggulan berupa garam tradisional yang telah dikenal hingga mancanegara.

Foto: kunjungan BI Kalbar, Pokdarwis Jagoi Babang dan Jurnalis Kalbar di Desa Les, Kecamatan Tejakula, Kabupaten Buleleng, Bali, pada (13/9/2025).

Dalam kunjungan tersebut, para peserta diajak melihat langsung proses produksi garam tradisional yang menjadi ikon utama desa wisata ini. Ketua BUMDes Segara Giri, Ketut Agus Wanaya, menjelaskan bahwa saat ini terdapat 22 petani garam yang tergabung dalam dua kelompok koperasi dan sentra produksi. Total produksi mencapai 6 ton per bulan, dengan harga jual Rp15.000 per 500 gram.

“Pemasaran garam dilakukan melalui kerja sama dengan pemerintah provinsi, koperasi, serta reseller di sejumlah kota seperti Salatiga, Bogor, dan Jakarta,” ungkap Agus Wanaya pada (13/9/2025).

Analis Yunior KPwBI Kalbar, Malinda Merry J, menyampaikan harapannya agar kunjungan ini dapat menjadi referensi dan inspirasi dalam pengembangan desa wisata di Kalimantan Barat.

“Kami berharap kunjungan langsung ke Desa Les, pemenang ADWI 2024, dapat memperkaya wawasan peserta mengenai pengembangan potensi desa wisata, yang diharapkan dapat menginspirasi pengembangan sektor serupa di Kalimantan Barat,” jelas Malinda.

Ia juga menambahkan bahwa pengalaman ini diharapkan dapat dituangkan dalam bentuk tulisan oleh para peserta kunjungan, sehingga dapat menjadi bahan refleksi dan inspirasi bagi pemerintah daerah, regulator, serta pemangku kepentingan lainnya dalam memajukan sektor pariwisata desa.