Janji keuntungan besar dalam waktu singkat masih menjadi umpan paling ampuh yang menjerat masyarakat ke dalam investasi bodong. Tanpa literasi keuangan yang memadai, bukan untung yang didapat melainkan kerugian yang bisa menguras seluruh aset keluarga.
Tvnewsone.com, Pontianak – Ancaman investasi bodong masih menjadi jebakan nyata yang mengintai masyarakat, khususnya kalangan menengah ke bawah. Iming-iming keuntungan instan kerap menutup nalar rasional, membuat banyak orang terjebak hingga kehilangan tabungan hidup mereka.
Untuk menekan risiko tersebut, Bursa Efek Indonesia (BEI) Kalimantan Barat terus menggencarkan edukasi literasi keuangan sebagai benteng utama perlindungan masyarakat.
Kepala Pelaksana Harian BEI Kalbar, Ardy Anto, menegaskan bahwa masalah utama bukan sekadar maraknya investasi bodong, melainkan pola pikir masyarakat yang masih mudah tergoda keuntungan instan.
“Selama orang masih percaya bisa kaya cepat tanpa risiko, di situ investasi bodong akan selalu punya tempat,” ujarnya, Jumat (24/4).
Ia menyinggung kasus investasi bodong di Mempawah yang menelan ribuan korban, mayoritas dari kalangan nelayan, petani, dan buruh, kelompok yang justru paling rentan secara ekonomi.
Menurut Ardy, edukasi yang dilakukan BEI sejak 2012 belum cukup jika tidak dibarengi perubahan pola pikir masyarakat terhadap uang.
“Masalahnya bukan di kurangnya pilihan investasi, tapi pada cara orang memperlakukan uangnya. Banyak yang ingin langsung untung tanpa paham dasar-dasarnya,” tegasnya.

BEI, lanjut dia, tidak pernah mendorong masyarakat untuk langsung berinvestasi. Fokus utama justru membangun kesadaran finansial sebagai fondasi.
Langkah paling mendasar adalah menjaga kesehatan keuangan pribadi dengan menghindari aktivitas yang merusak, seperti pinjaman online ilegal, judi online, hingga skema investasi yang tidak masuk akal.
“Kalau keuangan belum sehat, investasi justru bisa jadi pintu masuk kehancuran finansial,” katanya.
Ia juga menekankan pentingnya disiplin dalam mengatur pendapatan. Salah satu metode yang disarankan adalah pola 1-2-3-4, yakni menyisihkan 10 persen di awal untuk tabungan dan investasi, 20 persen untuk gaya hidup, 30 persen untuk cicilan, dan 40 persen untuk kebutuhan pokok.
“Yang sering salah, orang menabung dari sisa. Padahal harus diambil di depan,” ujarnya.
Lebih jauh, Ardy mengingatkan dua prinsip wajib sebelum berinvestasi: mengenali profil risiko diri dan memahami produk yang dipilih.
“Kalau tidak tahu diri sendiri dan tidak paham produknya, itu bukan investasi—itu spekulasi,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan masyarakat agar memahami karakter tiap pasar keuangan, mulai dari pasar uang, pasar modal, hingga pasar derivatif seperti kripto dan forex yang memiliki risiko tinggi.
“Di sana berlaku hukum keras: high risk, high return. Tanpa ilmu, uang bisa hilang dalam hitungan waktu,” katanya.
Melalui edukasi ini, BEI berharap masyarakat tidak lagi mudah terjebak pada janji manis investasi bodong, serta mampu membedakan antara kebutuhan dan keinginan dalam mengelola keuangan.











