Pasang Iklan
Pasang Iklan
Pasang Iklan

Di Balik Target Rp82 Miliar, BMH dan Tafsir Kebahagiaan Lewat Zakat

Di tengah daya beli yang melemah dan bencana yang datang beruntun sejak awal 2026, target Rp82 miliar terdengar ambisius. Namun bagi Baitul Maal Hidayatullah (BMH), Ramadhan bukan hanya musim donasi—melainkan momentum membuktikan zakat bisa lebih dari sekadar bantuan sesaat

Tvnewsone.com, Jakarta – Zakat kerap dipuji sebagai instrumen keadilan sosial. Tapi sejauh mana ia mampu mengubah struktur ketimpangan? Di Ramadhan 1447 Hijriah, Baitul Maal Hidayatullah (BMH) menargetkan Rp82 miliar, sembari mengusung konsep “zakat produktif” yang diklaim berdaya ganda. – Di negeri dengan populasi Muslim terbesar di dunia, potensi zakat kerap disebut ratusan triliun rupiah per tahun. Namun yang terhimpun masih jauh dari angka ideal. Di tengah jurang itu, Baitul Maal Hidayatullah (BMH) memasuki Ramadhan 1447 Hijriah dengan satu klaim yang terdengar sederhana—kebahagiaan bisa diakses lewat zakat.

Direktur Utama BMH, Supendi, tidak berbicara soal angka semata. Ia justru mengangkat soal rasa.
“Ketika kita memberi, bukan hanya penerima yang bahagia. Pemberi pun merasakan kebahagiaan,” ujarnya.

Pernyataan itu terdengar klise. Namun Supendi mencoba membingkainya dengan pendekatan psikologis. Ia menyebut ada efek biologis ketika seseorang berbagi—hormon dopamin terstimulasi, memunculkan rasa gembira. Memberi, dalam logikanya, bukan sekadar kehilangan harta, tetapi mendapatkan makna.

BMH tahun ini menargetkan penghimpunan Rp82 miliar—naik dari capaian Rp73 miliar pada Ramadhan sebelumnya. Target itu bukan kecil. Apalagi, di saat daya beli masyarakat masih tertekan dan bencana datang beruntun sejak awal 2026.

Di sinilah narasi “zakat produktif” dimainkan. BMH menegaskan programnya tidak berhenti pada bantuan konsumtif.
• Distribusi Al-Qur’an dilakukan berbasis verifikasi dai di lapangan.
• Program Dapur Bahagia melibatkan ibu-ibu setempat agar roda ekonomi lokal berputar.
• Bantuan bencana diklaim disertai pengukuran dampak sosial.

Tokoh publik Kang Maman yang turut mendukung gerakan ini menyebut daya tarik zakat produktif justru ada pada efek gandanya.
“Bukan hanya mustahik yang bahagia, muzaki juga. Karena yang diberikan tidak habis begitu saja, tapi memberdayakan,” katanya.

Namun pertanyaan mendasarnya tetap sama: sejauh mana zakat mampu menjadi solusi struktural, bukan sekadar bantalan sementara?

Supendi menyadari kritik itu. Ia menegaskan zakat tidak mengenal batas wilayah—dari Aceh hingga Gaza.
“Di mana pun ada saudara kita yang membutuhkan, di situ kita hadir,” ujarnya.

Pernyataan tersebut bisa dibaca sebagai perluasan solidaritas. Tapi juga mengandung tantangan: akuntabilitas dan keberlanjutan.

BMH mengklaim menerapkan evaluasi proses dan evaluasi dampak dalam setiap program. Transparansi, kata mereka, menjadi kunci menjaga kepercayaan publik.

Ramadhan, pada akhirnya, selalu menjadi musim kebaikan. Pertanyaannya bukan lagi apakah orang akan berbagi. Melainkan, apakah berbagi itu mampu mengubah struktur ketimpangan—atau hanya menambalnya untuk sementara.

BMH memilih optimistis. Bahwa kebahagiaan, jika ditularkan lewat zakat, bisa menjadi energi sosial.

Dan mungkin, di tengah riuh krisis, itu yang paling dibutuhkan: bukan sekadar angka miliaran rupiah—melainkan rasa peduli yang terorganisasi.