Tvnewsone com, Pontianak — Badan Pengelola Aset Bisnis dan Investasi (BPABI) Dewan Adat Dayak Provinsi Kalimantan Barat menyatakan keprihatinan mendalam atas maraknya peredaran daging babi beku kemasan yang diduga berasal dari luar provinsi. Produk tersebut disorot karena tidak jelas asal-usulnya dan dinilai berpotensi membahayakan kesehatan konsumen serta mengancam keberlangsungan peternakan lokal.
Kekhawatiran ini mencuat setelah adanya pemberitaan media online terkait masuknya daging babi beku ilegal ke wilayah Kalbar. BPABI, yang juga merupakan asosiasi usaha babi di Kalimantan Barat, menilai peredaran daging ilegal tersebut tidak hanya merugikan peternak lokal, tetapi juga menjadi ancaman serius bagi kesehatan masyarakat, terutama masyarakat adat Dayak yang menjadi konsumen utama.
Rawan Penyakit dan Tidak Terjamin Kesehatannya
Ketua BPABI Kalbar, Burhan Bulin, menegaskan bahwa daging babi beku dari luar tidak dapat diawasi secara langsung, baik secara fisik maupun melalui sertifikasi kesehatan hewan. Hal ini berbeda dengan daging dari babi potong lokal yang proses pengawasannya lebih transparan.
“Kami sangat khawatir dengan masuknya daging babi beku yang tidak diketahui sumbernya. Ini bukan hanya masalah kesehatan konsumen, tetapi juga ancaman serius bagi populasi ternak babi lokal yang telah kami repopulasi dengan susah payah,” ujar Burhan Bulin melalui rilis resmi yang disampaikan kepada wartawan tvnewsone.com pada hari Sabtu, 28 Juni 2025.
Ia menambahkan, penyebaran penyakit seperti African Swine Fever (ASF) dan Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) yang pernah melanda Kalbar sebelumnya bisa kembali terjadi jika peredaran daging tak terverifikasi ini dibiarkan. Kerugian besar pernah dialami peternak lokal akibat wabah tersebut.
Imbauan untuk Konsumen dan Pemerintah Daerah
BPABI mengajak seluruh lapisan masyarakat, terutama konsumen dari kalangan adat Dayak, untuk memilih daging babi lokal yang jelas asal-usulnya dan telah melalui proses pemeriksaan kesehatan hewan.
“Kami ingin masyarakat lebih selektif. Jangan tergiur harga murah tapi mengorbankan kesehatan dan keberlangsungan peternakan lokal,” ujar Burhan.
Selain itu, BPABI mendorong pemerintah daerah dan instansi terkait untuk meningkatkan pengawasan terhadap peredaran daging babi beku dari luar provinsi. Produk yang masuk ke pasar Kalbar harus dipastikan memenuhi standar keamanan pangan dan kesehatan hewan yang ketat.
Komitmen BPABI: Kembangkan Peternakan Sehat dan Berkelanjutan
Sebagai bagian dari Dewan Adat Dayak Provinsi Kalimantan Barat, BPABI memiliki peran strategis dalam pengelolaan aset bisnis dan investasi, termasuk pengembangan usaha peternakan babi lokal. Lembaga ini berkomitmen mendorong pertumbuhan usaha ternak yang sehat, aman, dan berkelanjutan demi kesejahteraan masyarakat adat Dayak.
“Kami akan terus menjaga keamanan produk ternak kami. Peternakan lokal bukan sekadar bisnis, ini adalah bagian dari warisan budaya dan ekonomi masyarakat adat yang harus dilindungi bersama,” tutup Burhan.












