Kamuda Moreng Apresiasi Naik Dango, Dari Ritual Adat Jadi Magnet Wisata Internasional

Pontianak – Event budaya tahunan Naik Dango ke-3 Kota Pontianak resmi ditutup dengan meriah pada Sabtu malam, 25 April 2026, di Rumah Radakng. Festival adat yang berlangsung selama lima hari ini dinilai sukses besar, tidak hanya sebagai ajang pelestarian budaya, tetapi juga sebagai simbol kuat persatuan lintas etnis dan penggerak ekonomi masyarakat lokal.

Ketua Forum Komunikasi Kamuda Moreng Kota Pontianak, Markus Pay, menyampaikan apresiasi tinggi kepada seluruh pihak yang terlibat. Ia menegaskan, keberhasilan penyelenggaraan tahun ini telah menetapkan standar baru dalam pelaksanaan kegiatan adat yang inklusif dan berdampak luas.

“Naik Dango bukan lagi milik satu kelompok, tetapi telah menjadi ruang kebersamaan lintas etnis yang menyatukan masyarakat Pontianak, bahkan menarik perhatian tamu dari luar daerah hingga mancanegara,” ujar Markus, pada (27/4).

Antusiasme ribuan pengunjung yang memadati lokasi acara menjadi indikator kuat keberhasilan event ini. Kehadiran tamu dari Sarawak, Malaysia, turut menegaskan daya tarik internasional festival tersebut. Selain itu, aktivitas pameran yang melibatkan pelaku UMKM lokal terbukti memberikan dampak ekonomi langsung, dengan meningkatnya transaksi selama kegiatan berlangsung.

Dari sisi keamanan, Forum Komunikasi Kamuda Moreng memberikan penghargaan khusus kepada Polresta Pontianak yang dinilai sigap menjaga situasi tetap kondusif. Tidak ditemukan gangguan berarti sejak pembukaan hingga penutupan acara, meski jumlah pengunjung terus membludak setiap harinya.

Dukungan penuh juga datang dari Pemerintah Kota Pontianak yang menyediakan fasilitas serta aksesibilitas yang memadai. Sinergi antara pemerintah, aparat keamanan, dan masyarakat dinilai menjadi kunci utama suksesnya pelaksanaan festival tahunan ini.

Sebagai informasi, Naik Dango merupakan ritual adat masyarakat Dayak sebagai ungkapan syukur pasca-panen kepada Jubata atau Tuhan Yang Maha Kuasa. Seiring perkembangan zaman, tradisi ini bertransformasi menjadi festival budaya yang kaya akan pertunjukan seni, perlombaan tradisional, serta ruang promosi wisata daerah.

Markus berharap, semangat kolaborasi yang terbangun dapat terus dipertahankan. Ia menilai, Naik Dango memiliki potensi besar untuk menjadi agenda wisata unggulan yang tidak hanya melestarikan budaya, tetapi juga memperkuat persatuan dan mendorong pertumbuhan ekonomi di Kalimantan Barat.

“Melihat antusiasme masyarakat yang luar biasa, kegiatan ini sudah melampaui ekspektasi. Naik Dango layak terus diperjuangkan sebagai identitas budaya sekaligus kebanggaan bersama,” tegasnya.