Jakarta – Tvnewsone.com, Mengawali perdagangan hari Kamis (12/3/2026), pasar modal global dan domestik dibayangi oleh ketidakpastian ekonomi akibat memanasnya konflik di kawasan Timur Tengah. Analis dari KB Valbury Sekuritas, Afif Abdullah, menyoroti bahwa kekhawatiran akan perang yang berkepanjangan telah kembali memicu ketakutan pasar terhadap lonjakan inflasi dan stabilitas ekonomi global.
Tekanan ini tercermin jelas pada penutupan bursa Wall Street di perdagangan Rabu. Indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) merosot 0,61% dan S&P 500 terkoreksi tipis 0,08%, meskipun Nasdaq masih mampu ditutup menghijau tipis 0,08%. Pelemahan serupa juga melanda bursa Eropa, di mana indeks FTSE melemah 0,56% dan DAX anjlok cukup dalam hingga 1,37%.
Menurut Afif, pemicu utama rontoknya bursa saham adalah lonjakan harga energi dunia. Terpantau, harga minyak mentah WTI melesat tajam 5,87% ke level 88,31, sementara minyak mentah Brent terus mendekati angka 93 dolar AS per barel.
“Konflik di Timur Tengah telah berdampak signifikan pada harga minyak, yang pada gilirannya mengerek imbal hasil obligasi dan menambah kekhawatiran inflasi. Kerapuhan pasar energi global saat ini sangat menonjol,” catat Afif dalam laporan paginya.
Langkah intervensi yang disiapkan oleh Badan Energi Internasional (IEA) dengan merencanakan pelepasan 400 juta barel minyak—sebuah jumlah yang belum pernah terjadi sebelumnya—tampaknya belum cukup kuat untuk meredam fluktuasi harga di pasar.
Dari sisi makroekonomi Amerika Serikat, rilis data Indeks Harga Konsumen (CPI) dari Departemen Tenaga Kerja mencatat kenaikan 0,3%, angka yang sebenarnya masih sejalan dengan ekspektasi para ekonom. Meskipun bank sentral AS (The Fed) diprediksi akan menahan suku bunganya, situasi di lapangan tetap sarat ketidakpastian. Afif juga mencatat bahwa imbas kenaikan harga komoditas vital ini menciptakan tantangan politik yang berat bagi pemerintahan Trump, terlebih di tengah memanasnya suhu politik jelang pemilihan paruh waktu (midterm elections).
Sentimen negatif dari bursa global ini tak ayal merambat ke pasar domestik. Pada perdagangan Rabu kemarin, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terpaksa ditutup melemah di level 7.389. Nilai transaksi harian tercatat mencapai Rp 15,7 triliun, diwarnai oleh aksi jual bersih (net sell) dari investor asing sebesar Rp 730 miliar di pasar reguler.
Menghadapi perdagangan hari ini, Afif memproyeksikan indeks masih berada dalam bayang-bayang tekanan jual. “IHSG diprediksi akan kembali melemah hari ini, dengan rentang pergerakan berada di area support 7.330 dan resistance di level 7.450,” jelasnya.
Di tengah proyeksi pelemahan indeks, Afif membagikan beberapa ide teknikal bagi para pelaku pasar yang ingin mencari peluang dari volatilitas harga. Berikut adalah saham-saham pilihan berserta rentang trading-nya:
EXCL (Speculative Buy): Area beli 2.720 – 2.750. Target harga berada di 2.850 – 2.950, dengan batas risiko (stop loss) jika ditutup di bawah 2.650.
ITMG (Speculative Buy): Area beli 25.750 – 25.850. Target harga di 26.700 – 28.000, dengan Stop Loss jika ditutup di bawah 25.000.
RAJA (Buy Area): 3.600 – 3.630. Target harga 3.780 – 4.000, dengan Stop Loss di bawah 3.470.
RATU (Buy Area): 5.300 – 5.350. Target harga 5.600 – 5.850, dengan Stop Loss di bawah 5.200.
ENRG (Buy Area): 1.510 – 1.525. Target harga 1.600 – 1.680, dengan Stop Loss di bawah 1.480.
WIFI (Buy Area): 2.200 – 2.230. Target harga 2.350 – 2.450, dengan Stop Loss di bawah 2.100.
(Iwn)












