Kemarau Picu BBM Langka di Sintang, Jalur Sungai Jadi Titik Rawan

Antrean kendaraan mengular di sejumlah SPBU di Sintang akibat terbatasnya pasokan BBM. Warga berharap distribusi segera kembali normal agar aktivitas tidak semakin terganggu, Kamis (12/02/226). Foto: tvnewsone.com/Yusri.

Sintang – Ancaman kemarau kering mulai berdampak pada distribusi bahan bakar minyak (BBM) di wilayah hulu Kalimantan Barat. Memasuki hari keempat, pasokan Pertalite dan Pertamax di sejumlah SPBU Kabupaten Sintang dilaporkan langka akibat terganggunya distribusi dari Fuel Terminal (FT) Sintang.

Sejumlah SPBU tidak beroperasi karena belum menerima pengiriman BBM. Antrean panjang terlihat di SPBU yang masih memiliki stok terbatas.
“Untuk mendapatkan BBM sekarang sangat susah. Kami harus mutar ke beberapa SPBU, tapi banyak yang kosong. Kalau ada pun antreannya panjang,” ujar Tinus, warga Sungai Ukoi, Rabu (11/2/2026).

Sungai Surut, Kapal Tak Bisa Sandar
Manager Communication, Relations & CSR Regional Kalimantan PT Pertamina Patra Niaga, Edi Mangun, menjelaskan bahwa gangguan distribusi dipicu penurunan tinggi muka air Sungai Melawi.
“Per 11 Februari 2026, ketinggian Sungai Melawi tercatat sekitar 2,7 meter dan mengalami penurunan kurang lebih 30 sentimeter. Kondisi ini menyebabkan kapal pengangkut BBM belum dapat melakukan sandar dan bongkar muat di FT Sintang karena faktor keselamatan pelayaran,” jelasnya.

Distribusi BBM ke wilayah Sintang, Kapuas Hulu, Sekadau, Melawi, dan Sanggau sangat bergantung pada jalur sungai. Ketika muka air turun, kapal logistik berisiko kandas sehingga suplai terhambat.

Belajar dari El Nino 2023
Kondisi ini mengingatkan pada periode kemarau ekstrem saat fenomena El Nino 2023, ketika curah hujan di Kalimantan Barat berada di bawah normal dan menyebabkan penurunan signifikan tinggi muka air sungai.
Saat itu, distribusi logistik—including BBM dan sembako—mengalami hambatan serupa. Ongkos angkut meningkat dan suplai ke wilayah pedalaman tersendat.

Meski kondisi saat ini belum dikategorikan sebagai kemarau ekstrem, pola cuaca kering yang berlanjut berpotensi memperburuk situasi apabila penurunan muka air terus terjadi.

Ketergantungan distribusi energi pada jalur sungai menjadikan wilayah hulu Kalbar rentan terhadap fluktuasi iklim, terutama saat terjadi anomali cuaca seperti El Nino.

Dampak Ekonomi Mengintai
Kelangkaan BBM mulai berdampak pada aktivitas masyarakat, khususnya transportasi roda dua dan roda empat. Distribusi sembako ke wilayah pedalaman juga terancam terganggu jika pasokan tidak segera normal.
Jika berlangsung lama, kondisi ini berpotensi memicu kenaikan ongkos logistik dan menekan aktivitas ekonomi masyarakat.

Upaya Antisipasi
Pertamina Patra Niaga melakukan penyesuaian pola suplai melalui pengalihan distribusi dari Integrated Terminal (IT) Pontianak serta optimalisasi ritase mobil tangki.

Selain itu, tengah dikaji alternatif skema bongkar muat di Kecamatan Tayan Hilir, Kabupaten Sanggau, menggunakan metode unloading langsung dari kapal ke mobil tangki dengan desain skid meter.
“Alternatif ini masih dalam tahap kajian teknis dan review aspek keselamatan (HSSE) agar seluruh proses berjalan aman,” tambah Edi.

Pertamina memastikan koordinasi intensif terus dilakukan agar distribusi BBM di wilayah terdampak dapat berangsur normal. [YS]