Naik Dango Pontianak Mendunia, Tradisi Pabayo Curi Perhatian Wisatawan Asing

Oplus_131072

Tvnewsone com, Pontianak – Perayaan adat Naik Dango di Kota Pontianak, Kalimantan Barat, kian menegaskan diri sebagai charm off event yang memikat perhatian wisatawan mancanegara. Tradisi yang sarat makna ini tak hanya menjadi ruang pelestarian budaya Dayak, tetapi juga magnet wisata yang mampu menarik ratusan pengunjung dari luar negeri.

Salah satu atraksi yang mencuri perhatian dalam Naik Dango ke-3 Dewan Adat Dayak Kota Pontianak adalah tradisi meraut pabayo. Kegiatan ini menampilkan keterampilan khas masyarakat Dayak dalam mengolah bambu atau kayu menjadi rumbai-rumbai yang memiliki nilai simbolis dalam ritual adat.

Pabayo atau pebayu merupakan elemen penting dalam berbagai upacara adat Dayak, khususnya sub-etnis Kanayatn dan Salako di Kalimantan Barat. Pabayo biasanya ditancapkan di lokasi gawai sebagai penanda berlangsungnya ritual, mulai dari membuka lahan hingga pembangunan rumah.

Tak sekadar ornamen, pabayo mengandung makna mendalam. Rumbai hasil rautan tersebut melambangkan kesuburan, kesejahteraan, serta penghormatan kepada leluhur. Setiap tingkat rautan memiliki filosofi tersendiri, menyesuaikan dengan tujuan dan skala ritual yang dilaksanakan.

Dalam lomba meraut pabayo, para peserta dituntut menunjukkan ketelitian, kesabaran, dan keahlian khusus. Teknik meraut yang tepat akan menghasilkan rumbai yang rapi dan bergelombang, mencerminkan nilai estetika sekaligus spiritual dalam budaya Dayak.

Salah satu juri lomba, Sajem, menegaskan bahwa tradisi meraut pabayo merupakan bagian tak terpisahkan dari identitas budaya Dayak. Ia menyebut, keterampilan ini mulai jarang dikuasai generasi muda.

“Pabayo itu alat ritual dari budaya kita. Saat ini generasi muda yang bisa membuatnya sudah berkurang, padahal pabayo selalu digunakan dalam setiap acara ritual,” ujar Sajem.

Di tengah arus modernisasi, keberadaan lomba ini dinilai menjadi langkah konkret dalam menjaga warisan budaya agar tetap hidup. Selain itu, kegiatan ini juga membuka peluang besar dalam sektor pariwisata.

Selama perayaan Naik Dango, tercatat lebih dari 200 wisatawan mancanegara hadir, baik yang diundang secara resmi maupun yang datang secara mandiri. Mereka berasal dari Malaysia dan Belanda, menunjukkan bahwa daya tarik budaya lokal mampu menembus batas negara.

Salah satu wisatawan asal Belanda, Leon, mengaku terkesan dengan pengalaman pertamanya menyaksikan langsung tradisi Dayak di Kalimantan Barat.

“Sangat menarik, karena kami belum mengetahui budaya Dayak ini. Sekarang kami bisa melihat langsung, ini pengalaman yang sangat menarik,” kata Leon.

Ia juga menambahkan bahwa kunjungannya ke Kalimantan merupakan yang pertama kali. Sementara itu, Kepala Bidang Pengembangan Destinasi Wisata Dispora Kalbar, Rita Hastarita, memberikan apresiasi terhadap pelaksanaan Naik Dango yang dinilai mampu mengangkat potensi budaya lokal ke kancah yang lebih luas.

“Kami sangat mengapresiasi kegiatan Naik Dango, termasuk lomba meraut pabayo. Pabayo ini sampai sekarang masih digunakan dalam berbagai kegiatan adat kita,” ujar Rita.

Ia menilai, kegiatan seperti ini tidak hanya penting sebagai upaya pelestarian budaya, tetapi juga sebagai sarana edukasi bagi masyarakat luas, khususnya generasi muda, agar lebih mengenal dan mencintai warisan leluhur.

Dengan semakin berkurangnya jumlah perajin pabayo, lomba ini diharapkan mampu menjadi media pembelajaran sekaligus regenerasi budaya. Melalui pendekatan yang menarik dan melibatkan berbagai kalangan, tradisi ini diharapkan tetap lestari di tengah perkembangan zaman.

Naik Dango pun kini tak hanya menjadi agenda budaya, tetapi juga ikon pariwisata Kota Pontianak sebagai kota jasa dan perdagangan yang memiliki kekayaan tradisi yang hidup dan terus berkembang.