Berita  

Kecaman Menguat! Pembubaran Ibadah Jumat Agung Dinilai Ancam Kerukunan Umat Beragama

Bengkayang, Kalbar – Tvnewsone.com, Nilai persatuan dalam semboyan Bhinneka Tunggal Ika kembali diuji. Sebuah peristiwa penutupan rumah doa saat ibadah Jumat Agung di Tangerang baru-baru ini menuai sorotan luas dan keprihatinan berbagai pihak. Peristiwa tersebut disebut terjadi dengan alasan rumah ibadah belum memiliki izin resmi.

Kejadian ini memicu kekhawatiran terkait kebebasan beragama, khususnya bagi kaum minoritas yang dinilai semakin tertekan dalam beberapa tahun terakhir.

Menanggapi hal tersebut, salah satu anggota Forum Kerukunan Umat Beragama Kabupaten Bengkayang sekaligus tokoh agama Islam, Mauludin, menyampaikan keprihatinannya.

“Kita melihat berita yang viral di media sosial ini sangat miris. Kenapa umat Kristiani yang sedang menjalankan ibadah justru dibubarkan dan rumah ibadahnya ditutup,” ujarnya saat diwawancarai, Selasa (7/4/2026).

Ia menilai tindakan oknum tersebut tidak mencerminkan nilai toleransi antar umat beragama yang selama ini dijunjung tinggi di Indonesia. Bahkan, menurutnya, dalam ajaran Islam sendiri, menghormati pemeluk agama lain adalah bagian dari nilai kebaikan.

“Kalau soal izin bangunan, itu bukan ranah masyarakat atau umat untuk menutup atau menyegel. Itu kewenangan pemerintah setempat, bukan tindakan sepihak,” tegasnya.

Mauludin juga menegaskan bahwa di Kalimantan Barat, khususnya di Bengkayang, kondisi toleransi antar umat beragama selama ini berjalan baik dan harmonis.

“Selama saya hidup di Bengkayang, belum pernah ada kejadian seperti ini. Kita hidup rukun, saling menghormati, dan itu harus terus dijaga,” tambahnya.

Ia pun mengimbau masyarakat, khususnya umat Muslim di Kalimantan Barat, agar tidak mudah terprovokasi oleh oknum-oknum yang berpotensi memecah belah kerukunan.

Selain itu, ia meminta pemerintah pusat, khususnya Kementerian Agama Republik Indonesia dan Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia, untuk segera mengambil langkah tegas agar kejadian serupa tidak terulang.

“Jangan sampai hal-hal seperti ini merusak persatuan bangsa. Kita harus tetap berpegang pada nilai Negara Kesatuan Republik Indonesia,” pungkasnya.

Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa toleransi bukan hanya slogan, tetapi harus dijaga dan diwujudkan dalam tindakan nyata oleh seluruh elemen masyarakat.(Rin).