Ketika dunia diliputi ketidakpastian akibat konflik global, tekanan ekonomi, dan krisis moral, sebuah majelis sederhana justru konsisten menyalakan cahaya spiritual. Dipimpin KH Zaini, khataman Al-Qur’an rutin setiap 40 hari menjadi ikhtiar kolektif memperkuat doa untuk bangsa terutama bagi para pemimpin agar tetap amanah dan bijaksana. Ramadan pun menjadi momentum penguatan ruhiyah, bukan sekadar ibadah personal, tetapi gerakan moral bersama.
Tvnewsone.com, Jakarta – Di tengah dinamika global yang berdampak hingga ke dalam negeri—mulai dari tekanan ekonomi hingga tantangan sosial—Majelis yang dipimpin KH Zaini tetap istiqamah menggelar khataman Al-Qur’an setiap 40 hari sekali. Dalam setahun, kegiatan ini dapat berlangsung hingga 12 kali, menjadi tradisi spiritual yang terus hidup.
Jamaah datang dari berbagai wilayah seperti Kembangan, Gandaria, hingga sejumlah majelis taklim lainnya. Mereka berkumpul untuk menuntaskan bacaan Al-Qur’an sekaligus memanjatkan doa bagi keselamatan bangsa bertempat di Alhamd Carpet, milik H. Malik Mahboob Ahmad, Radio Dalam, Jakarta Selatan, Minggu (01/03/2026).
KH Zaini menegaskan bahwa di tengah situasi dunia yang tidak menentu, umat Islam tidak boleh kehilangan harapan. Doa untuk pemimpin bangsa menjadi bagian penting dalam setiap khataman, sebagai bentuk dukungan moral dan spiritual agar Indonesia tetap makmur dan sejahtera.
“Negeri ini perlu doa. Pemimpin kita perlu dukungan moral dari umat,” ujarnya.
Momentum Ramadan semakin memperkuat semangat tersebut. Bulan suci bukan hanya tentang ibadah pribadi, tetapi juga memperbanyak kepedulian sosial dan penguatan akhlak.
Tak hanya fokus pada khataman, majelis ini juga aktif membina kaum ibu melalui pengajian rutin setiap Rabu dan Ahad. Materinya meliputi pembelajaran Al-Qur’an, rawi, sholawat, hingga kajian keislaman yang aplikatif dalam kehidupan sehari-hari.
Pembinaan generasi muda juga menjadi perhatian serius. Remaja dibekali ilmu agama dan pembentukan karakter sebagai calon pemimpin masa depan. Anak-anak yang bermukim di lingkungan majelis turut difasilitasi pendidikan dan kegiatan positif seperti hadrah untuk menumbuhkan kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW melalui lantunan sholawat.
Dengan konsistensi tersebut, majelis KH Zaini bukan sekadar tempat ibadah, tetapi menjadi pusat penguatan moral dan spiritual masyarakat. Di tengah gejolak zaman, doa dan Al-Qur’an tetap menjadi jangkar harapan bagi bangsa.









