PASANG IKLAN Hubungi WhatsApp 08565065138
WhatsApp
PASANG IKLAN Hubungi WhatsApp 08565065138
WhatsApp

Dukung Penuh Naik Dango, Yulius Aho Ajak Dayak Lestarikan Adat di Tengah Globalisasi

Pasang Iklan Hubungi WhatsApp 08565065138
WhatsApp

Tvnewsone.com- Kubu Raya– Tokoh Masyarakat Adat Dayak Kalimantan Barat, Yulius Aho, menghadiri secara langsung seluruh rangkaian perayaan budaya tahunan Naik Dango ke-41 yang digelar di Rumah Betang Desa Lingga, Kecamatan Sungai Ambawang, Kabupaten Kubu Raya.

Perayaan yang berlangsung selama empat hari, mulai 25 hingga 28 April 2026 ini, secara resmi dibuka oleh Wakil Gubernur Kalimantan Barat, Krisantus Kurniawan. Kegiatan tersebut turut dihadiri berbagai tokoh adat, masyarakat, serta perwakilan dari Kabupaten Kubu Raya, Kabupaten Landak, dan Kabupaten Mempawah.

Seluruh rangkaian kegiatan tahun ini dipusatkan di Rumah Betang Adat Desa Lingga yang menjadi simbol kehidupan komunal masyarakat Dayak. Berbagai agenda digelar secara meriah, mulai dari ritual adat, pertunjukan seni budaya, hingga prosesi tradisional yang sarat makna filosofis.

Dalam keterangannya, Yulius Aho menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan tersebut. Ia mengaku mengikuti acara sejak pembukaan hingga penutupan sebagai bentuk dukungan terhadap pelestarian budaya Dayak.

“Saya sebagai bagian dari masyarakat Dayak sekaligus penasihat Dewan Adat Dayak Provinsi Kalimantan Barat dan Bendahara Umum Ikatan Cendekiawan Dayak Nasional, tentu mendukung penuh pelaksanaan Naik Dango yang diselenggarakan di Kabupaten Kubu Raya,” ujarnya.

Ia juga memberikan penghargaan kepada panitia penyelenggara, khususnya Dewan Adat Dayak Kabupaten Kubu Raya yang bekerja sama dengan Dewan Adat Dayak Kabupaten Landak dan perwakilan dari Mempawah dalam menyukseskan kegiatan tersebut.

Menurut Yulius, Naik Dango merupakan warisan leluhur yang memiliki nilai seni dan budaya tinggi serta terus diwariskan secara turun-temurun oleh masyarakat Dayak. Tradisi ini juga menjadi bentuk ungkapan syukur atas hasil panen yang diperoleh selama satu tahun.

“Naik Dango bukan sekadar perayaan, tetapi juga pengingat bahwa masyarakat Dayak hidup dan tumbuh berdasarkan adat istiadat yang kuat. Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung,” katanya.

Lebih lanjut, ia mengajak seluruh masyarakat Dayak, khususnya generasi muda, untuk tidak hanya meramaikan kegiatan adat secara seremonial, tetapi juga memahami makna yang terkandung di dalamnya.

“Di tengah arus globalisasi dan kemajuan teknologi, kita tidak boleh meninggalkan adat. Bagi masyarakat Dayak, adat adalah pedoman hidup dalam bermasyarakat,” tegasnya.

Ia pun mengimbau masyarakat Kalimantan untuk terus menjaga dan melestarikan adat serta seni budaya Dayak sebagai identitas di tengah kehidupan masyarakat yang multietnis dan multiagama.

Perayaan Naik Dango sendiri merupakan tradisi tahunan masyarakat Dayak sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan atau Jubata atas hasil panen yang melimpah, sekaligus menjadi momentum mempererat persatuan dan kebersamaan antar masyarakat adat.