Blokade Selat Hormuz Jadi Sorotan, UPN Veteran Jakarta Kupas Ancaman Krisis Global hingga Ketahanan Energi Indonesia

Tvnewsone.com, Jakarta – Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UPN Veteran Jakarta (UPNVJ) menggelar Seminar Nasional bertajuk “Blokade Selat Hormuz: Krisis Global, Keamanan Maritim, dan Pelajaran Strategis untuk Indonesia” di Auditorium UPNVJ, Selasa (19/05/2026). Seminar tersebut membahas dinamika geopolitik internasional yang dinilai memiliki dampak besar terhadap keamanan global, rantai pasok dunia, hingga ketahanan energi Indonesia.

Kegiatan yang diselenggarakan oleh Program Studi Hubungan Internasional FISIP UPNVJ itu menghadirkan sejumlah pembicara berkompeten di bidang pertahanan dan geopolitik maritim, termasuk mantan Kepala Staf Angkatan Laut (KASAL), Laksamana TNI (Purn) Ade Supandi.

Rektor UPN Veteran Jakarta, Prof. Dr. Anter Venus, M.A., Comm., menjelaskan bahwa tema seminar dipilih langsung oleh Program Studi Hubungan Internasional FISIP UPNVJ karena dianggap masih sangat relevan dan aktual untuk dikaji secara akademik.

“Ini kegiatan yang diselenggarakan oleh FISIP melalui Program Studi Hubungan Internasional. Mereka yang menentukan tema dan sebagainya. Rektorat hanya diminta memberikan sambutan,” ujar Prof. Anter kepada awak media.

Ia mengatakan, isu blokade Selat Hormuz menjadi perhatian dunia karena kawasan tersebut berada di jalur strategis perdagangan dan distribusi energi global.

Menurutnya, dampak dari konflik atau gangguan di kawasan itu tidak hanya menyentuh aspek keamanan maritim, namun juga memengaruhi rantai pasok internasional hingga memicu krisis energi dunia.

“Blokade Selat Hormuz itu betul-betul berada di jantung geopolitik dunia. Dampaknya luas, mulai dari keamanan maritim, rantai pasok global, hingga persoalan energi yang berimplikasi terhadap banyak negara,” katanya.

Prof. Anter menilai seminar tersebut menjadi penting karena menghadirkan narasumber yang memiliki pengalaman panjang di bidang maritim dan keamanan laut.

“Pembicaranya adalah tokoh yang punya otoritas dan pengalaman panjang di bidang maritim. Pak Ade Supandi misalnya, beliau mantan KASAL yang sudah sangat memahami persoalan geopolitik dan keamanan laut,” tuturnya.

Ia juga menyebut kampus memiliki tanggung jawab akademik untuk menghadirkan ruang diskusi terhadap berbagai persoalan global yang sedang berkembang.

Menurut Prof. Anter, mahasiswa hubungan internasional perlu terus didorong untuk mengeksplorasi berbagai dinamika konflik internasional sebagai bagian dari proses pembelajaran akademik.

“Kampus memang tempat mahasiswa mencari reasoning, mengeksplorasi, dan mendiskusikan berbagai isu global. Bagi mahasiswa hubungan internasional, isu seperti ini sangat krusial, aktual, dan relevan untuk dipelajari,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa persoalan blokade Selat Hormuz dapat menjadi real case bagi mahasiswa untuk memahami peta geopolitik dunia sekaligus mencari strategi dan solusi menghadapi dampak konflik internasional terhadap Indonesia.

“Mahasiswa perlu memetakan persoalan geopolitik yang ada, memahami implikasinya, dan mencari solusi strategis terhadap berbagai tantangan global,” tambahnya.

Sementara itu, mantan KASAL Laksamana TNI (Purn) Ade Supandi menegaskan bahwa Indonesia perlu mengambil pelajaran penting dari dinamika konflik di Selat Hormuz, terutama terkait ketahanan energi nasional dan logistik pangan.

Menurut Ade Supandi, meski Indonesia berada jauh dari kawasan konflik, dampaknya tetap dapat dirasakan secara langsung, terutama terhadap harga bahan bakar minyak (BBM) dan stabilitas ekonomi nasional.

“Bagi Indonesia, dampaknya pasti kena. Karena itu ke depan kita harus benar-benar memiliki ketahanan energi nasional. Masalah BBM bisa menjadi persoalan besar ketika akses terhadap sumber energi terganggu,” katanya.

Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga ketahanan logistik dan pasokan pangan agar tidak terganggu akibat krisis global.

“Jangan sampai logistik terganggu, termasuk masalah pangan. Negara harus memiliki langkah-langkah antisipatif agar masyarakat tetap terlindungi,” ujarnya.

Dalam kesempatan tersebut, Ade Supandi juga memberikan pesan kepada generasi muda, khususnya mahasiswa, agar terus meningkatkan kapasitas diri dan memahami perkembangan situasi global.

“Generasi penerus memiliki tugas berat untuk melanjutkan kepemimpinan bangsa. Mereka harus belajar dengan baik dan mampu memberikan kajian terhadap lingkungan strategis yang terus berubah agar siap menghadapi tantangan ke depan,” tandasnya.

Seminar nasional ini menjadi forum akademik penting bagi mahasiswa dan civitas akademika untuk memperdalam pemahaman mengenai krisis global, keamanan maritim, serta strategi Indonesia menghadapi dinamika geopolitik internasional yang terus berkembang.